Menristekdikti selaku keynote speaker pada Mudzakarah ICMI Orwil Jawa Barat, di Kampus IKIP Siliwangi, pada 10 Oktober 2026. Prof. Brian Yuliarto mengangkat Baitul Hikmah sebagai inspirasi tentang bagaimana peradaban ilmu pengetahuan berkembang melalui tradisi keterbukaan, pengujian, dan penerapan ilmu.
Pesan yang dapat ditarik ialah bahwa kemajuan ilmu tidak cukup bertumpu pada kecerdasan individu, tetapi membutuhkan ekosistem yang menghargai pengetahuan, menguji kebenaran, dan memastikan hasilnya bermanfaat bagi kehidupan.
Baitul Hikmah (Bayt al-Hikmah) dikenal dalam sejarah sebagai institusi yang berkaitan dengan pengumpulan manuskrip, kegiatan penerjemahan, dan pengembangan pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Perkembangan tradisi keilmuan ini berlangsung terutama sejak abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, dengan Baghdad menjadi salah satu pusat intelektual penting dunia.
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Mansur, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun, kegiatan pengumpulan serta penerjemahan karya-karya dari tradisi Yunani, Persia, dan India berkembang dalam lingkungan istana dan jaringan ilmiah yang lebih luas.
Penting dicatat, kemajuan ilmu pada masa Abbasiyah tidak lahir dari Baitul Hikmah semata. Ia ditopang pula oleh patronase politik, aktivitas perdagangan, jaringan intelektual lintas budaya, perkembangan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu, serta berbagai lingkungan belajar dan penelitian.
Dengan demikian, pelajaran historisnya bukan sekadar membangun perpustakaan atau lembaga penerjemahan, melainkan membangun peradaban yang memberi ruang bagi pengetahuan untuk bergerak melampaui batas bahasa, budaya, dan generasi.




